Beranda > Baca Aja, Info, Renungan > Mitoni / 7 bulanan

Mitoni / 7 bulanan

Sabtu kemarin sepupu saya mengadakan acara 7 bulanan atau Mitoni dalam bahasa Jawa. Saya sebelumnya sudah pernah melihat prosesi ini, tapi… baru kali ini saya memperhatikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya *( loh..loh…salah ya, emang pembukaan UUD 45 :-P ).

Dalam tradisi Jawa, mitoni merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa. Kata mitoni berasal dari kata ‘am’ (awalan am menunjukkan kata kerja) + ‘7’ (pitu) yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada hitungan ke-7. Upacara mitoni ini merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan.

Upacara-upacara yang dilakukan dalam masa kehamilan, yaitu siraman, memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lawe/lilitan benang/janur, memecahkan periuk dan gayung, minum jamu sorongan, dan nyolong endhog, pada hakekatnya ialah upacara peralihan yang dipercaya sebagai sarana untuk menghilangkan petaka, yaitu semacam inisiasi yang menunjukkan bahwa upacara-upacara itu merupakan penghayatan unsur-unsur kepercayaan lama. Selain itu, terdapat suatu aspek solidaritas primordial terutama adalah adat istiadat yang secara turun temurun dilestarikan oleh kelompok sosialnya. Mengabaikan adat istiadat akan mengakibatkan celaan dan nama buruk bagi keluarga yang bersangkutan di mata kelompok sosial masyarakatnya.

Mitoni tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya memilih hari yang dianggap baik untuk menyelenggarakan upacara mitoni. Hari baik untuk upacara mitoni adalah hari Selasa (Senin siang sampai malam) atau Sabtu (Jumat siang sampai malam) dan diselenggarakan pada waktu siang atau sore hari. Sedangkan tempat untuk menyelenggarakan upacara biasanya dipilih di depan suatu tempat yang biasa disebut dengan pasren, yaitu senthong tengah. Pasren erat sekali dengan kaum petani sebagai tempat untuk memuja Dewi Sri, dewi padi. Karena kebanyakan masyarakat sekarang tidak mempunyai senthong, maka upacara mitoni biasanya diselenggarakan di ruang keluarga atau ruang yang mempunyai luas yang cukup untuk menyelenggarakan upacara.

Secara teknis, penyelenggaraan upacara ini dilaksanakan oleh dukun atau anggota keluarga yang dianggap sebagai yang tertua. Kehadiran dukun ini lebih bersifat seremonial, dalam arti mempersiapkan dan melaksanakan upacara-upacara kehamilan. Serangkaian upacara yang diselenggarakan pada upacara mitoni adalah:

1. Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Pembersihan secara simbolis ini bertujuan membebaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga kalau kelak si calon ibu melahirkan anak tidak mempunyai beban moral sehingga proses kelahirannya menjadi lancar. Upacara siraman dilakukan di kamar mandi dan dipimpin oleh dukun atau anggota keluarga yang dianggap sebagai yang tertua.

2. Upacara memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain (sarung) si calon ibu oleh sang suami melalui perut dari atas perut lalu telur dilepas sehingga pecah. Upacara ini dilaksanakan di tempat siraman (kamar mandi) sebagai simbol harapan agar bayi lahir dengan mudah tanpa aral melintang.

3. Upacara brojolan atau memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra ke dalam sarung dari atas perut calon ibu ke bawah. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa kesulitan.
Upacara brojolan dilakukan di depan senthong tengah atau pasren oleh nenek calon bayi (ibu dari ibu si bayi) dan diterima oleh nenek besan. Kedua kelapa itu lalu ditidurkan di atas tempat tidur layaknya menidurkan bayi.
Secara simbolis gambar Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra melambangkan kalau si bayi lahir akan elok rupawan dan memiliki sifat-sifat luhur seperti tokoh yang digambarkan tersebut. Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra merupakan tokoh ideal orang Jawa.

4. Upacara ganti busana dilakukan dengan jenis kain sebanyak 7 (tujuh) buah dengan motif kain yang berbeda. Motif kain dan kemben yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain.
Motif kain tersebut adalah:
1. sidomukti (melambangkan kebahagiaan), 2. sidoluhur (melambangkan kemuliaan), 3. truntum (melambangkan agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh), 4. parangkusuma (melambangkan perjuangan untuk tetap hidup), 5. semen rama (melambangkan agar cinta kedua orangtua yang sebentar lagi menjadi bapak-ibu tetap bertahan selma-lamanya/tidak terceraikan), 6. udan riris (melambangkan harapan agar kehadiran dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan), 7. cakar ayam (melambangkan agar anak yang akan lahir kelak dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya). Kain terakhir yang tercocok adalah kain dari bahan lurik bermotif lasem dengan kemben motif dringin. Upacara ini dilakukan di senthong tengah.

5. Upacara memutus lilitan janur/lawe yang dilingkarkan di perut calon ibu. Janur/lawe dapat diganti dengan daun kelapa atau janur. Lilitan ini harus diputus oleh calon ayah dengan maksud agar kelahiran bayi lancar.

6. Upacara memecahkan periuk dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa (siwur). Maksudnya adalah memberi sawab (doa dan puji keselamatan) agar nanti kalau si ibu masih mengandung lagi, kelahirannya juga tetap mudah.

7. Upacara minum jamu sorongan, melambangkan agar anak yang dikandung itu akan mudah dilahirkan seperti didorong (disurung).

8. Upacara nyolong endhog, melambangkan agar kelahiran anak cepat dan lancar secepat pencuri yang lari membawa curiannya. Upacara ini dilaksanakan oleh calon ayah dengan mengambil telur dan membawanya lari dengan cepat mengelilingi kampung.

Dengan dilaksanakannya seluruh upacara tersebut di atas, upacara mitoni dianggap selesai ditandai dengan doa yang dipimpin oleh dukun dengan mengelilingi selamatan. Selamatan atau sesajian sebagian dibawa pulang oleh yang menghadiri atau meramaikan upacara tersebut.

Lambang atau makna yang terkandung dalam unsur upacara mitoni

Upacara-upacara mitoni, yaitu upacara yang diselenggarakan ketika kandungan dalam usia tujuh bulan, memiliki simbol-simbol atau makna atau lambang yang dapat ditafsirkan sebagai berikut:

  • Sajen tumpeng, maknanya adalah pemujaan (memule) pada arwah leluhur yang sudah tiada. Para leluhur setelah tiada bertempat tinggal di tempat yang tinggi, di gunung-gunung.
  • Sajen jenang abang, jenang putih, melambangkan benih pria dan wanita yang bersatu dalam wujud bayi yang akan lahir.
  • Sajen berupa sega gudangan, mengandung makna agar calon bayi selalu dalam keadaan segar.
  • Cengkir gading (kelapa muda yang berwarna kuning), yang diberi gambar Kamajaya dan Dewi Ratih, mempunyai makna agar kelak kalau bayi lahir lelaki akan tampan dan mempunyai sifat luhur Kamajaya. Kalau bayi lahir perempuan akan secantik dan mempunyai sifat-sifat seluhur Dewi Ratih.
  • Benang lawe atau daun kelapa muda yang disebut janur yang dipotong, maknanya adalah mematahkan segala bencana yang menghadang kelahiran bayi.
  • Kain dalam tujuh motif melambangkan kebaikan yang diharapkan bagi ibu yang mengandung tujuh bulan dan bagi si anak kelak kalau sudah lahir.
  • Sajen dhawet mempunyai makna agar kelak bayiyang sedang dikandung mudah kelahirannya.
  • Sajen berupa telur yang nantinya dipecah mengandung makna berupa ramalan, bahwa kalau telur pecah maka bayi yang lahir perempuan, bila telur tidak pecah maka bayi yang lahir nantinya adalah laki-laki.

Selamat untuk Eko dan Rasti atas “calon bayi” kalian……

About these ads
  1. Deeto
    Maret 11, 2008 pukul 1:49 am

    Selamat!

  2. September 4, 2008 pukul 9:15 am

    wah.. ternyata prosesinya cukup rumit.
    aku lagi cari2 literatur mengenai 7 bulannan. ada versi simple nya gak? :D

  3. ratih
    Oktober 21, 2008 pukul 8:54 am

    Mba, aku juga cari literatur tentang 7 bulana termasuk persiapan dan peralatan yang dibutuhkan..kayaknya buanyak ya…boleh minta susunan acaranya ga mba..

    many thanks ya mba

    @ratih
    maaf ya jawabnya agak lama…
    itu yang mitoni itu sepupuku… semua yang merencanakan ibu mertuanya, kebetulan ibu mertuanya waktu itu ke yogya, jadi mo nanya agak susah. Trus…mereka kebetulan katolik, jadi pakai susunan disesuaikan dengan agama katolik.
    ini aku ambilkan infonya dari We Are Mommies Indonesia ya…

    Bahan yang diperlukan:
    1. Gubuk Siraman (termasuk gentong 2 buah, bunga, gayung)
    2. Kelapa gading 2 buah yang sudah diukir Rama-Shinta
    3. Telur kampung
    4. Kain batik 7 buah
    5. Kain putih kira-kira 3-4 meter
    6. Ikan mas sepasang (jantan-betina)
    7. Golok untuk belah kelapa
    8. Duit-duitan untuk jual beli rujak
    9. Souvenir untuk yang nyiram (pensil, handuk, cermin, sisir, benang, jarum, sabun) ada 7 macam, bisa dikemas di keranjang dan dibungkus plastik kado
    10. Souvenir untuk yang datang ke acara pengajian adalah buku pengajiannya

    Urutan acaranya:
    1. Dibuka dengan acara Pengajian, ayat yang dibaca Surat Ya’asin dan Surat Yusuf
    2. Calon Ibu ganti baju siraman (kemben) lengkap dengan bando melatinya dan berjalan menuju gubuk siraman didampingi suami tercinta, didahului oleh orang tua
    3. Acara adat suami memasukkan ke-2 buah kelapa gading ke dalam gentong, lalu di”siram” oleh orang tua dan family yang diTua-kan (mereka yang nantinya akan diberikan souvenir)
    “Gonta-ganti” kain sambil ditanya ke “penonton”, cocok atau tidak kain yang dikenakan, sampe pada kain ke-7
    5. Setelah itu pakai kain putih (disarungkan) lalu suami meloloskan telor kedalam sarung kain putih itu, setelah itu bapak meloloskan ikan mas yang kemudian ditadahi oleh tangan ibu.
    6. Acara terakhir di gubuk siraman, suami mengaduk gentong isi kelapa sambil menghadap ke penonton (seperti mengaduk kupon undian), setelah itu mengambil satu buah kelapa, jika yang diambil gambar Rama maka kelak anaknya laki-laki, dan kalau bergambar Shinta maka kelak anaknya perempuan
    7. Setelah itu kelapanya dibelah, ini melambangkan susah atau gampangnya proses persalinan nanti, dan air kelapanya boleh diminum
    8. Istri dan suami ganti baju kebaya dan siap-siap jualan rujak. Menurut kepercayaan dari rasa rujak ini orang-orang bisa meramalkan jenis kelamin si jabang bayi nanti
    9. Uang hasil penjualan rujak dikumpulkan di mangkok/kendi tanah liat (ceritanya ditabung) tapi isinya dicampur uang recehan yang asli, nanti mangkok/ kendinya itu dibanting oleh suami (proses saweran) dan uang recehnya diperebutkan oleh para tamu.

  4. Astried
    Oktober 23, 2008 pukul 2:37 am

    Pg mbak..

    Waah, ternyata proses mitoni itu puanjaang yaa. “,)
    Kl boleh, saya juga minta susunan acara nya juga mbak..

    Plus.. Boleh tau ga c/p pelaksana adat (dukun) mitoninya? Coz umumnya ga semua perias2 mantenan adat paham akan hal tsb.. =(

    TQ before mbak..
    -astried-

  5. wiwid
    Desember 9, 2008 pukul 1:05 am

    tingkeban itu sebenarnya suatu tradisi yang sangat sakral, karena tingkeban atau mitoni ini mempunyai maksud yang sangat baik. semua itu bertujuan untuk melancarkan sang Ibu yang hendak melahirkan Bayinya. mbak aku minta foto-foto pada waktu pelaksanaan tingkeban dong…..makasih.

    @wiwid
    wah…fotonya musti minta sama sepupuku itu…
    maaf ya mba wid ga bisa bantu, takutnya nunggu2 malah kelamaan

  6. Desember 20, 2008 pukul 1:48 pm

    ada nggak contoh undangan /

    @adel
    wah…sayangnya ga punya :(
    maaf ya ga bisa bantu

  7. Rasti
    Januari 7, 2009 pukul 11:43 am

    Ya ampun…ini mba tutut ya??? kok bisa ketemunya di sini..keren banget deh blognya..ngebantu banget lagi..aku pas kebetulan nyari no telp. jamsostek yang di tb simatupang..eh masuk ke sini deh..eh mas eko curiga jangan2 ini mba tutut kita..eh ternyata bener..malah ada ulasan tentang 7 bulanan kita…weleh…canggih deh..aku belum sempet invite di facebook..mau bilang makasi buat kado natalnya untuk Orlin :p kalendernya langsung dipejeng..bajunya lucu2..tapi masi kegedean hehe..mau baca2 lagi ah blogmu…love u mba.. (hehe..masih kagum ni..kok bisa bikin blog begini..aku gaptek banget! :p)

    @Rasti
    adudududuh…kok ketemunya disini :D
    udah ah jadi malu…wong aku gaptek kok…ini masih belajar…masih jauh dari canggih :p
    iya tuh ada mitoni kalian tapi ga ada pictnya secara waktu itu ga bawa kamera
    iya sama2…salam u/ mas eko & cium u/ orlin
    *tersanjung jadi tersandung nih…hehehehe*
    love u too :)

  8. Ardi Pratomo
    April 4, 2009 pukul 6:39 am

    Siang Mbak…salam kenal ya…aku mau tanya mengenai acara selamatan yg 4 bln aja, bisa kasih informasi..kira2 ritualnya apa saja sih, trus katanya ada acara kasih souvenir untuk yang datang …minta sarannya dong Mbak..maklum baru jadi calon ayah untuk anak yg pertama…Thank’s atas atensinya ya..salam.

  9. April 16, 2009 pukul 6:08 am

    nunut mampir baca dan copy file.. matur nembah nuwun

  10. sukolaras
    April 29, 2009 pukul 5:37 am

    Salam kenal
    Iringan gending apa yang cocok untuk upacara mitoni ini

  11. ayu
    Oktober 30, 2009 pukul 10:59 pm

    waduh..mitoni itu seru jg kalo dilaksanakan secara lengkap gt.saya kebetulan mau mitoni,hari minggu besok.tapi kayaknya gak seperti yg mb tulis,soalnya bapak ibu saya jg gak tau betul tentang mitoni yg sebenarnya.setengah2 gt deh pokoknya.tp mohon doanya ya,mudah2an calon bayi saya ini,bisa lahir lancar dan selamat.amin..

    @ayu:
    Yang penting doanya ya say…
    Amiiiin… :)

  12. Desember 2, 2009 pukul 11:36 am

    kapan ya aku midodareni…
    nikah aja belum…hhe…

    @nanda winda:
    nanti akan tiba saatnya.. sabar ya:)

  13. Ryma
    Januari 3, 2010 pukul 9:27 am

    Salam kenal. Nama Saya Ryma. Mau tanya, apa yang dilakukan dengan tumpengnya. dipajang saja atau dipotong. Kalau sudah dipotong terus siapa yang makan? Makasih

    @Ryma:
    Salam kenal juga sist…
    Dipotong dibagikan dari ortu dan ke yang lain, biasa saja dimakan bersama-sama :)

    Terima kasih kembali..

  14. Martinus Leo Yudrianto
    April 27, 2010 pukul 7:03 am

    Mba,

    Kalau mau beli peralatannya dimana ya?
    Terutama kelapa yang sudah dilukis.
    Saya akan mengadakan Mitoni ini tapi sederhana saja.
    Kebetulan nenek saya mengerti tata cara yang mba sudah sampaikan. Beliau minta saya mempersiapkan alat2nya saja.

    Regards,
    Leo

  15. dinar
    Juni 1, 2010 pukul 5:31 am

    Tradisi yg memberatkan secara ekonomi…. dan tdk ada ANJURAN juga dalam Islam.

    @Dinar:
    Tidak bolehkah kita menghormati kebudayaan kita sendiri?

  16. rio
    Juli 19, 2010 pukul 9:49 am

    menurutku mitoni itu emang ribet tapi tergantung niat dan ketulusan hati… jadi orang jawa ya harus mau repot… klo diberi kemampuan lebih ya jangan disederhana2 in, klo dinilai dari sisi uang nya… nggak lebih mahal dari pindah makan dan tidur ke mekah sebulan kok

  17. mbah dukun
    September 30, 2010 pukul 9:31 pm

    manusia bodoh yg menghambur2 kan uang utk sesuatu yg tidak ada tuntunannya… sungguh hina kalian semua… kasihannn

    @mbah dukun:
    loh mbah… mbah bicara seperti itu tapi kok pake nama mbah dukun?? ini yang hina siapa ya???!!

  18. mbah dukun
    September 30, 2010 pukul 9:39 pm

    @dinar: boleh saja asal jangan menyalahi sunnah!!!! tapi upacara ini termasuk yg menyalahi sunnah yg tidak di syariatkan… sadarlah wahai manusia!!!… tidak sedikit harta yg kalian keluarkan hanya utk upacara sesat dan sia sia seperti ini, lebih baik amalkan pada fakir miskin dan berdoa sendiri mohon langsung keselamatan kepada Allah semata. daripada memecah mecahkan telur dan mubazir, masih bnyak yg membutuhkan telur untuk di makan dan mengenyangkan perut drpd hrus dipecahkan sia sia….

    @mbah dukun:
    bukankah sudah ditulis diatas.. ini hanya tradisi jawa

    • arya
      Mei 8, 2012 pukul 3:37 pm

      Tradisi emang diperbolehkan,.. karena itu urusan dunia,.. namun jika hal tradisi yang menjadi urusan dunia itu bertentangan dengan kaidah agama islam, ya jelas tertolak, n malah berdosa,…. bukan kan menghambur menghamburkan uang itu bermakna berlebihan , sedangkan jelas2 itu dilarang dalam agama islam,….

  19. Denny
    Desember 9, 2010 pukul 3:52 am

    Mohon dibantu untuk kata2 / kalimat untuk acara 7 bulanan (mitoni) … trima kasih bgt sebelumnya …

  20. April 29, 2011 pukul 4:34 am

    salam kenal mba, saya orang jawa tapi sejak anak pertama dan kedua tidak pernah melakukan prosesi seperti yang mbak uraikan di atas. Banyak faktor memang,tapi faktor utama adalah syariat…sepengetahuan saya tidak ada tuntunan tentang acara-acara tersebut. Mempertahankan tradisi boleh,tapi menjaga akidah jauh lebih penting. Kesimpulannya pada keyakinan masing-masing.

    @adhy:
    salam kenal juga… trims sudah mampir…
    benar…setuju *toss* :)

  21. Jenny
    Juni 27, 2011 pukul 3:23 am

    saya mohon maaf sebelumnya, saya punya tetangga yang sedang 7 bulanan dan saya diundang ke acara selamatannya. Tapi saya bingung, saya harus bawa (hadiah/kado) apa ya nanti keacara 7 bulanan dia ? Terimakasih :D

  22. JOKO
    Oktober 31, 2011 pukul 2:13 pm

    baguzz sekali msh ada yg nguri-uri kebuadayaan leluhur bangsa ini,,,daripada org yg sok benar dn suci melupakan budayany sndiri mlh mengadop budaya bangsa lain,,tp klo budaya qta diaku oleh bangsa lain baru merasa kehilangan,,,kya mbah dukun yg komentar diataz sok bener saja,,ni bkn hambur-hamurkan duit maz,,tp plaksanaany dilakukan semampunya,,dn jga ni acra bnyk nilai luhur yg terkandung didalamnya

  23. November 13, 2011 pukul 1:49 pm

    ada yang bahasa jawa ga??
    gmn ya cara nya jadikan bahasa jawa

    @Dodhy:
    sayangnya enggak..mungkin bisa browsing2 lagi:)

  24. putri
    Maret 1, 2012 pukul 2:48 pm

    ini upacara hanya di jawa doang,, apa dimana-mana sist??
    help me.. ada tgz :D

    @putri:
    jawa sist.. jawa tengah tepatnya:)
    kalau islam biasanya 4 bulanan ketika ruh ditiupkan ke janin, makanya diadakan doa untuk itu.

    • Juni 25, 2013 pukul 10:23 pm

      suwun mbakyu yang udah ngebantuin aku
      GBU
      pak tik di malang
      pengajar sma dempo malang

  25. Juni 20, 2012 pukul 11:55 pm

    bukannya yang ada kalimat tempo sesingkat-singkatnya itu teks proklamasi, pembukaan alinea berapa..ahiihihi,..peace
    bedanya mitoni ama 7bulanan bayi yg dah lahr apa?

    @laila:
    hehehehe… mitoni itu 7 bulanan bayi masih dikandung, kalo 7 bulanan bayi yg beru lahir aku malah ga tau

  26. ABDUL MANAF
    Juni 23, 2012 pukul 4:00 am

    kalo kain gedhog itu sama dengan jenis apa ya?soalnya kmaren sya jg melakukan prosesi mitoni nah bapak saya ribut minta kain gedhokan trus……………

    ABDUL MANAF

    @Abdul Manaf:
    saya juga kurang mengerti pak. mohon maaf ga bantu jawabannya

  27. triwardoyo
    Oktober 4, 2012 pukul 4:38 pm

    klw ada acara pengajian bagus ngk

  28. rijal alfiansyah dzaki
    April 17, 2013 pukul 4:04 am

    budaya bukan sih apa kah ada hadits y maff soal y aku gak tau kalo ada hadits y aku akan menjalan kannya kalo gak ada terpaksa aku meninggalkan y… terimakasih tolong d cari y hadits y riwayat siapa..y

  29. rijal alfiansyah dzaki
    April 17, 2013 pukul 4:14 am

    soalnya ada hadits yang berbunyi gini.. AN UMIL MU’MININA UMI ABDILAH AISATA RODIAULLAHU ANHU QOLAT QOLA ROSULULLOH SAW MANHADA SAFI AMRINA HADZA MALAISA MINHUM PAHUA RODUN..: artinya barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama, yaitu sesuatu yang tidak saya perintahkan, maka perbuatanya itu tertolak. (tidak sesuai kaidah dan syariat..) (HR.BUKHARI DAN MUSLIM)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: