Mengapa tak kau matikan saja akar pohon cintanya, agar dia meranggas dan lalu mati?
Mengapa tak kau padamkan saja lilin di jiwanya, agar gelap gulita menjadi jawabannya?
Mengapa tak kau hiraukan teriakan menggemanya hingga kau dapat merasakan itu merasuk relung hatimu?
Mengapa kau biarkan dia merasakan segala perasaan yang membuatnya terjatuh dan bangun kembali seolah menjadi hal yang biasa?
Tng, 01.30 AM, 14/04/08
Like this:
Be the first to like this post.
Tadi aku melihat kamu
Tapi dalam bentuk yang lain
Tadi aku menyapamu
Tapi tidak dengan cara yang dulu
Tadi kita berbincang
Tapi perasaan terasa semu
Sungguh sosok itu begitu nyata
Tatapan itu seperti aku mengenalnya
Bahkan setiap lekukan diwajahnya
Tutur katanya begitu serupa
Adakah dia tahu bahwa aku ‘melihatmu’?
Adakah kamu tahu bahwa aku melihatmu dalam dirinya?
Aku takut semakin mendalam
Aku takut semakin mendera
Karena aku tahu, dia bukan dirimu
Like this:
Be the first to like this post.

Melewati jalan itu beberapa waktu lalu
Seakan ingatan lama terkuak muncul kembali
Padahal sudah ku kubur dalam-dalam di lembah terdalam
Apakah ada firasat yang tepat untuk menggambarkan?
Atau hanya sepenggal kenangan yang tersimpan di suatu ruang hati?
Melewati jalan itu beberapa waktu lalu
Diriku tersenyum sendiri beberapa saat lamanya
Kenangan memang akan selalu ada
Dan bagaimana cara kita menyikapinya
Like this:
Be the first to like this post.



Mencoba untuk tidak memikirkan
Menjauh dari angan-angan
Melupakan semua ingatan
Menapak jalan lurus kedepan
Cinta tidak pernah salah
Yang salah hanyalah waktu
Waktu untuk memulai cinta
Waktu untuk menghentikan cinta
Dengan siapa cinta itu datang
Dengan siapa cinta itu pergi
Ketika kenyataan cinta itu manis
Kau ingin berada selamanya
Ketika kenyataan cinta itu pahit
Kau ingin berlari menjauh
Dan kini, apakah kau akan terus berlari dari kenyataan cinta, tanpa harus menghadapinya?
Like this:
Be the first to like this post.
Komentar Terakhir