Beranda > Renungan > Bulek dan Ibu itu

Bulek dan Ibu itu

Hari minggu kemarin, sekitar jam 2 siang, disaat saya dan semua orang dirumah sedang leyeh2 antara kepanasan dan menunggu buka puasa #eh masih lama ya:p terdengar bunyi klenengan sapi yg sengaja ditaruh di pintu pagar sebelah kanan. Yak, klenengan itu sengaja saya beli sebagai pengganti bel, murah dan unik:)

Saya berlari membuka pintu pagar dan tebak sapa yg datang? uhmm… gimana ya neranginnya… Seorang tetangga waktu di komplek dulu. Kami memanggilnya Bulek, dia seorang janda kalo ga salah, eh apa malah ga married ya? ga ada kerjaan tetap, tapi mulia sekali hatinya. Dari dulu dia terkenal suka membantu orang. Dia membantu orang2 kecil yang tidak mampu berobat, mengurus mereka untuk mendapatkan kartu Jamkeskin. Bayangkan! Dia tidak menghasilkan uang, tetapi dia menolong orang!

Sosok tubuhnya masih sama seperti yang dulu, kurus dan kecil. Tapi karena sudah lama saya tidak melihatnya, ada setahun, saya sempat bergumam dalam hati (ya ampun, bulek ini ternyata sudah tua ya). Ya dia terlihat sudah tua, dan sudah agak lupa. saya dikira adik saya dan adik saya dikira saya. dan dia bertanya berkali2:
“Kamu ini Toetoet?”
“Sudah lulus kuliah? Sudah kerja?”
Haa… ya ampun bulek…. dan adik2 saya juga dikira masih pada kuliah.

Dia datang ditemani seorang ibu. Ibu ini yang istilahnya “menjaga” Bulek. Yang kemana2 selalu mengawal Bulek. Kondisi keuangannya juga 11-12 sama Bulek. Suaminya sudah lama terkena PHK. Ibu ini tidak bekerja. Anak dari ibu ini sudah menikah tapi ditelantarkan suaminya, jadi si anak dan cucu tinggal bersama ibu ini. Trus ibu sehari2 dapat uang dari mana? “Yah ada aja bu, ini saya jual jepit2 kecil, atau baju2 bekas, atau apa saja yang menghasilkan uang lah bu.”
Gosh…Subhanallah….

Bulek tidak berpuasa karena kondisi fisiknya sudah sangat menurun. Saya bikinkan teh manis hangat dan air putih. Sementara si ibu berpuasa. Mereka mengobrol ngalur ngidul dengan mama saya. Alasan datang kerumah saya ternyata adalah: ingin meminta kue2 kering yang gosong, atau sisa putih telur yang tidak terpakai (biasanya mama saya menyimpannya di kulkas). Ya ampun… maaf sekali Bulek, mama saya kebetulan tahun ini tidak bikin kue untuk dijual seperti tahun2 sebelumnya karena satu dan lain hal. Paling nanti hanya bikin buat dimakan sendiri saja. Jadi “ngerasa gimana gituh”. Dibela-belain datang dari rumahnya yg di Cipulir, berdua naik angkot trus becak siang2. Beberapa waktu lalu katanya Bulek ini juga ingin datang kerumah, tapi lupa rumah saya yang mana, jadi pulang lagi. Kasian… ingatannya sudah menurun.

Bulek dan ibu pun berpamitan pulang karena takut kesorean, takut jalanan macet. Mama memberikan beberapa barang yang masih layak digunakan, kue dan sejumlah uang. Hati2 dijalan ya Bulek…. Ibu jaga Bulek ya… kalau ada apa2 kasih kabar.

Semangat dan usaha dari seorang Bulek memberikan “pencerahan” kepada kami di Minggu itu.

Kategori:Renungan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: